logo

CV. ABC Palem Lestari

ABC Palem merupakan Partner Resmi dari PT. Cipta Piranti Sejahtera (CPSSoft) yang melayani Penjualan Accurate Accounting Software dan Rene Point of Sale, Training, & Konsultasi.
tamanpalem@myabcshop.com
+62 (21) 5439 2729

Perusahaan Digital Tag

ABC Palem > Posts tagged "Perusahaan Digital"

Laporan Keuangan Di Era Digital

Laporan keuangan bagi sebuah perusahaan adalah hal penting. Laporan keuangan menjadi tolak ukur yang merepresentasikan kinerja perusahaan. Namun di era perusahaan digital atau lebih dikenal dengan istilah perusahaan Start Up, laporan keuangan terlihat tidak terlalu penting. Bahkan dianggap tidak ‘berfungsi’ di perusahaan digital, benarkah?

Laporan keuangan selalu menjadi salah satu alat informasi mengenai kondisi keuangan perusahaan. Dalam buku The End of Accounting, NYU Stern Professor Baruch Lev mengklaim bahwa 100 tahun terakhir, laporan keuangan tidak menjadi hal penting dalam keputusan pasar modal.

Disebutkan dalam buku tersebut, penelitian terbaru memungkinkan kami membuat klaim yang lebih berani: laba akuntansi praktis tidak relevan untuk perusahaan digital. Tentunya isi buku milik Stern tersebut mengejutkan para pemain pasar modal dan para pelaku usaha perusahaan konvensional.

Hal itu juga terbukti dari beberapa perusahaan digital yang berani melakukan IPO (Initial Public Offering) meskipun laporan keuangan perusahaan menunjukan perusahaan tersebut dalam keadaan rugi.

Pada 13 Februari 2018, The New York Times melaporkan bahwa Uber merencanakan IPO. Saat itu, nilai Uber diperkirakan berkisar antara $ 48 hingga $ 70 miliar, meskipun melaporkan kerugian selama dua tahun terakhir. Bahkan Uber sejak akhir tahun 2017 hingga Februari 2018 sudah bersiap-siap hengkang dari Asia Tenggara, pada akhirnya terbukti di akhir Maret 2018, Uber menyerahkan seluruh bisnisnya kepada Grab.

Ternyata hal tersebut tidak hanya dilakukan oleh satu perusahaan. Melainkan banyak perusahaan digital. Bahkan banyak perusahaan berani mengakuisisi perusahaan-perusahaan besar, meskipun perusahaan yang mereka beli sedang dalam keadaan bangkrut.

Seperti Microsoft yang berani membayar Linkedin sebesar $26 miliar atau setara Rp. 349 triliun. Padahal saat itu, Linkedin sedang dalam keadaan rugi. Begitupun Facebook yang berani membeli WhatsApp sebesar $ 19 miliar padahal WhatsApp tidak memiliki keuntungan sama sekali.

Hal ini menjadi sangat jelas ketika Anda melihat dua laporan keuangan perusahaan yang paling penting: neraca dan laba rugi. Bagi perusahaan industri yang memiliki aset fisik dan barang, neraca keuangan akan memberikan gambaran yang wajar mengenai aset produktif dan laporan laba rugi dalam memberikan perkiraan biaya yang wajar untuk menciptakan nilai bagi pemegang saham. Namun pernyataan tersebut tidak begitu penting bagi perusahaan digital.